Buruh Buku Jogja

IMG_20180501_111305-01
Buku Hak untuk Malas oleh Paul Lafargue

Dunia percetakan dan penerbit buku merupakan dunia yang kompleks, meskipun tak se-rumit pabrik rokok atau makanan kalengan, tapi proses dalam penerbitan buku juga hal yang melelahkan, dan menerbitkan buku tidak hanya mencetak dalam kertas kosong lalu jadilah buku tersebut, sungguh tidak. Percayalah.

Sebelum sampai pada tangan pembacanya, sebuah buku yang akan dicetak atau diterbitkan melalui tahapan-tahapan yang tidak bisa dibilang singkat. Pada tahap awal, penulis akan menyerahkan naskah kepada penerbit, setelah penerbit menerima naskah akan diteruskan kepada penata letak atau umum disebut layouter. Dalam tahap ini layouter akan menyusun isi dari buku tersebut, mulai dari; pembuatan daftar isi, penomoran halaman, jarak antar huruf, jarak antar paragraf, dan sebagainya sehingga buku tersebut nyaman untuk dibaca dan tidak mudah membuat mata para pembacanya lelah.

Setelah layouter menyelesaikan tugasnya maka akan diteruskan kembali kepada penulis atau editor dari naskah tersebut. Mereka akan memeriksa lagi dan lagi untuk memastikan tidak ada yang salah dalam penulisan atau penyusunan kata dan jika ada revisi, penulis atau editor akan menyerahkan kembali kepada layouter, kadang hal semacam ini terjadi sekali atau bahkan puluhan kali yang membuat para layouter stres dan lupa bercinta. Selama proses ini penulis juga minta tolong kepada desainer kaver atau ilustrator untuk membuat beberapa alternatif yang akan dijadikan sampul bukunya, dan dalam proses ini pula, penerbit akan mengurus ISBN dari buku tersebut.

Selesai sudah tugas layouter, saatnya bagi layouter untuk menertawakan bagian produksi.

Bagian produksi di dunia perbukuan tidak hanya diurusi oleh tukang cetak saja, ada tukang potong kertas dengan mesin besar mengerikan yang jika salah sedikit saja bisa berakibat fatal, tukang besut (lipat dan susun kertas) dengan keahlian tingkat dewa dalam melipat dan menyusun kertas, tukang binding (jilid) yang dengan kuat menahan aroma lem sehingga tidak mabuk, tukang shrink (mlastikin) yang bersahabat dekat dengan plastik dan hawa panas.

Mereka melakukan pekerjaan tersebut dengan sedikit tertekan tetapi ada pula yang menikmatinya dan merasa bangga karena namanya tercantum di bagian kolofon.

Di bagian kolofon inilah yang sedikit menarik, di sana tercantum informasi tentang buku tersebut, mulai dari nama penulis, penerbit, desainer kaver, layouter, dll. Tapi sayang seribu sayang, nama tukang cetak dan teman-temannya di bagian produksi tak nampak sama sekali. Mereka tak ubahnya seperti mantan yang sudah berbulan-bulan dilupakan atau juga seperti sajak Sapardi ‘dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu’.

Panjang umur pada semua buruh, ter-khusus dalam dunia perbukuan yang turut serta mencerdaskan bangsa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s